Harsiwi Achmad

Biodata
Profesi : Profesional
Posisi : Direktur Program dan Produksi SCTV
Birth Place : Karanganyar
Date of Birth : Monday, 29 August 1966 (Age : 52)
Gender : Wanita
Religion : Islam
Home Address : -
Office Address : PT Surya Citra Televisi SCTV Tower - Senayan City Jl. Asia Afrika Lot 19, Jakarta 10270 Telepon : 62-21-2793 5555 Faximili : 62-21-2793 5444
Email : -
Website : -
Status : Menikah
Husband : -
Children(s) :
Note(s) :

Lincah dan ramah. Itulah kesan yang ditangkap banyak orang saat bertemu dengan Harsiwi Achmad, Direktur Program dan produksi SCTV. Wanita kelahiran Karanganyar, Jateng ini, dipercaya menakhodai bagian vital tersebut sejak September 2010. Sebelumnya dia berkecimpung di bidang yang sama selama 6,5 tahun di RCTI.

SCTV menjadi stasiun televisi tempat dua kali berlabuhnya wanita yang akrab disapa Siwi itu. Bidang riset dan kreatif tampaknya menjadi kekuatan ilmu yang dimiliki ibu dua anak ini, Sejak mulai bekerja, dia selalu diandalkan mengurusi penelitian sosial, bidang yang memang sudah didalaminya selama menimba ilmu di perguruan tinggi.

Selesai kuliah di UGM, Siwi ingin sekali menerapkan ilmu antropologi dalam bidang bisnis. Ternyata, ilmunya cocok di bidang industri pertelevisian, yang berhubungan dengan hiburan dan masyarakat sebagai target pasarnya. Siwi mengawali karier selama 1 tahun pada bidang riset di satu perusahaan yang menjadi cikal bakal stasiun Indosiar.

Dia kemudian melanjutkan kuliah di Monash University. Waktu kuliah, Siwi sudah tertarik di bidang pertelevisian. Setelah selesai kuliah, ia tidak langsung bekerja, karena mendapat jodoh dengan temannya yang sama-sama melanjutkan kuliah di Australia.

Setelah anak pertamanya berumur 6 bulan, Siwi baru berkarier di bidang riset di salah satu stasiun pertelevisian. Dia tertarik menerapkan ilmu antropologi dan sosialogi di industri pertelevisian. ”Saya tertarik bekerja di bidang riset karena saya belajar banyak soal antropologi dan sosiologi.”

Dari pengalamannya berkecimpung di bidang riset program dan produksi, dia melihat bidang tersebut bisa menjadi inti dari industri pertelevisian karena bisa menggabungkan antara hasil riset dan kreativitas.

Kalau kuat dalam bidang saja, menurut dia, tidak cukup. ”Perlu kepiawaian untuk menggabungkan antara hasil penelitian dan kreativitas seni.” Baginya, data merupakan hasil dari suatu pencapaian. Selebihnya, bagaimana memadukan angka yang menjadi cermin masyarakat dan kreativitas. ”Kalau angka saja tidak jalan. Tapi kreativitas saja juga tidak jalan. Perlu memadukan angka dan kreativitas.”

Seperti kebanyakan wanita Jawa yang gemar menari dan berolahraga semasa kanak-kanak, Harsiwi pun mempunyai hobi yang sama. ”Saya memilih menari dan olahraganya pilih badminton dan tenis meja,” ujar perempuan kelahiran Karanganyar, Solo, Jateng, mengenang masa kecilnya.

Siwi, sejak kecil sudah menyukai kesenian terutama seni tari dan membaca puisi. Dia menguasai banyak tari Jawa dan sering meraih juara dalam berbagai perlombaan di daerahnya. Dia mengaku bakat seninya tidak berasal dari kedua orang tuanya, tapi diperoleh dari pengaruh lingkungan. Pasalnya, ayahnya bekerja di pemerintahan, sedangkan ibunya mempunyai usaha pemasaran garmen termasuk batik.

”Bakat seni saya peroleh dari lingkungan dan saya asah terus, sehingga berkembang,” tutur anak keempat dari delapan bersaudara itu. Menurutnya, kegiatan menari bagi anakanak di daerahnya memang sesuatu hal yang biasa. Lingkungnnya mengajarkan seperti itu. Waktu usia anak-anak, kegiatan eksktrakurikulernya adalah olahraga dan menari.

Kesenangannya terhadap seni pun dikembangkannya dengan memilih Jurusan Antropologi di Universitas Gajah Mada, setelah tamat dari bangku SMA. Dia senang mempelajari tentang manusia dan budaya karena semua kegiatan berhubungan dengan manusia.

Sebelum lulus kuliah, Siwi tertarik bekerja menjadi wartawan karena profesi ini berinteraksi dengan masyarakat melalui mewawancarai dan menulis berita. Dia melamar bekerja pada satu surat kabar di Yogyakarta.

Waktu tes menulis berita, dia mewawancarai mbok jamu di pasar Bringharjo. Dia merasa senang, tapi tidak ditekuninya karena ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Prestasi anak keempat dari delapan bersaudara ini juga terlihat dari hasil akademiknya. Waktu lulus di UGM, kenangnya, dia meraih prestasi mahasiswa terbaik se-universitas tersebut. Setelah lulus, Siwi ditarik untuk menjadi dosen di perguruan tinggi tersebut.

Namun, panggilan hatinya berkata lain. Dia ingin mengaplikasikan ilmu antropologi di bidang bisnis karena telah banyak melakukan penelitian-penelitian tentang budaya dan manusia. Lalu dia hijrah ke Jakarta dan bekerja di bidang riset. Namun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi senantiasa bergelora. Terlebih lamaran beasiswanya diterima di Monash University, Melbourne Australia. ”Saya melanjutkan pendidikan ke Australia mengambil bidang antropologi dan sosiologi,” paparnya.

Pada era 1990-an televisi swasta di Indonesia mulai berkembang. Melihat kondisi itu, Siwi akhirnya tertarik untuk mendalami berbagai hal tentang pertelevisian di luar negeri. Penelitian-penelitian di bidang sosial sudah didalaminya. Sekarang dia mempunyai kekuatan di bidang tersebut. ”Saya mengasah kemampuan saya. Saya tertarik di bidang seni dan sekarang semakin terasah.” Banyak ilmu yang diperolehnya berpengaruh pada perilakunya sehingga lebih terbuka menghadapi masalah.

Saat ini Siwi menilai industri pertelevisian nasional sangat dinamis. Pergerakannya cepat, sehingga riset tidak bisa lama-lama. Stasiun televisi punya tools untuk menganalisis data, misalnya, dari lembaga riset independen AC Nielsen. ”Untuk mengimbangi perkembangan cepat industri televisi tadi, diperlukan kemampuan analisis. Dengan menerjemahkan angka dalam bentuk kreativitas, kita bisa melihat perubahan dari menit ke menit,” tutur Siwi.

Membaca angka dan menerjemahkannya dalam bentuk kreativitas, perlu terjun langsung ke lapangan, merasakan, dan mempraktikkan. Mengingat, ilmu sosial tidak sama dengan ilmu keuangan yang hitung-hitungannya tepat. Namun, Siwi tidak menampik dalam bidang sosial juga ada trial dan error yang juga bergantung pada seni. ”Yang bagus, kita dasar kuat dan mempunyai jiwa seni. Kalau tidak hasilnya tidak maksimal.”

Banyak bagian yang di bawahi Siwi di SCTV antara lain pemilihan program, strategi pengaturan jadwal tayang, bernegosiasi dengan rumah produksi, memantau kompetitor, pengembangan seluruh program dan image perusahaan. SCTV, katanya, memfokuskan tayangan hiburan dan informasi untuk semua lapisan masyarakat tanpa batasan usia.

Tahun ini, SCTV kontinyu dengan kekuatan film televisi (FTV), musik, sinetron dan berita. ”Kami berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas program tersebut agar tetap kuat.” Siwi mengklaim SCTV menjadi stasiun yang menayangkan acara produksi dalam negeri paling besar dibandingkan dengan stasiun televisi lainnya. Penayangan program luar negeri hanya sekitar 2%.

Program tersebut dibelinya dari rumah produksi. Produksi dalam negeri tidak semuanya diproduksi sendiri oleh SCTV (in house). Komposisinya, in house dan rumah produksi 40%:60%. Program in house antara lain musik, news, dan variety show.

Sementara itu, program FTV, sinetron dibeli dari rumah produksi karena investasi untuk membuat program tadi cukup besar. ”Sekarang ini, SCTV yang paling banyak menampilkan program lokal,” ujar Siwi seraya menjelaskan berdasarkan penelitian pemirsa Indonesia lebih suka program lokal dibandingkan dengan impor.

Dia suka bekerja di pertelevisian karena industri ini dinilai dinamis dan generasi muda menjadi salah satu inspirasinya. ”Saya suka yang dinamis. Kita selalu berpikir young dan dinamis. Kita bekerja di hiburan yang harus up to date.” Untuk menghadapi kompetisi di industri pertelevisian yang ketat, menurutnya, setiap waktu diperlukan ide kreatif.

Ide kreatif, memang bisa didapatkan dari mana saja dan kapan saja. Misalnya, dari mengobrol dengan anak remaja, berbincang dengan orang di jalan, membaca koran dan jalan-jalan ke luar negeri.

Dengan kata lain, tidak ada batasan untuk memperoleh ide kreatif, bergantung pada bagaimana cara seseorang mendapatkan dan mengembangkannya, tutupnya.

 
Education
# Education
1 Master of Arts, majoring in Anthropology & Comparative Sociology, Monash Univeersity, Melbourne, Australia (19921994)
2 Sarjana Antrophologi, UGM (1990)
 
 
Career
# Career From Until
1 Direktur Program dan Produksi 2010 -
2 Direktur Program dan Produksi 2006 2010
3 Senior Vice President Programming 2005 -
4 GM Programming 2004 2005
5 Field Research Excecutive SCTV sampai Planing, Scheduling & Research - -
6 Senior Manager 1996 2004
7 Material Researcher 1991 -