Melanglang dari dunia bisnis hingga main sinetron

Bisnis Indonesia 25 Agustus 1996
  Nama Adiwarsita Adinegoro sudah tidak asing lagi di kalangan jajaran pengusaha konglomerat. Cuma pengusaha putra wartawan kesohor Djamaluddin Adinegoro ini kerap bersikap low-profile. Namun untuk mengetahui lebih jauh tentang karirnya, wartawan Arief Rahman dari Bisnis Indonesia mencoba mengikuti perjalanan akhir pekannya, beberapa waktu lalu. Bila seorang pengusaha muda bermain sinetron, tentu saja daya tariknya agak berbeda dengan artis sesungguhnya. Mungkin kalau bintang sinetron, simpati itu datang dari pemirsa televisi. Berbeda dengan pengusaha yang main sinetron, justru daya tariknya datang dari sesama mitra usahanya. Itulah pengalaman pengusaha Adiwarsita Adinegoro untuk pertama kalinya bermain film sinetron Mentari di balik awan yang ditayangkan RCTI. Daya tarik itu seolah mengangkat nama Adiwarsita untuk masuk dalam kiprah baru di dunia sinetron. Padahal dalam karir bisnisnya ia termasuk salah satu pengusaha berpotensi besar. Bahkan dalam jajaran pengusaha konglomerat, nama pengusaha anak seorang wartawan kesohor Djamaluddin Adinegoro ini sudah cukup dikenal. Maklum, pengusaha muda kelahiran Bukittinggi, Sumbar, 19 Maret 1946 ini memang masih seangkatan dengan konglomerat Aburizal Bakrie. Malah kawan sejawatnya juga ada yang menjadi menteri. Seperti Menpera Akbar Tandjung dan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Subijakto Tjakrawerdaja. Mereka itu adalah teman semasa SMA di Kanisius, Jakarta. "Saya main film itu kan cuma untuk iseng. Saya hanya ingin tahu gimana sih rasanya jadi bintang film. Eh... nggak tahunya enak juga ya..main film. Bahkan banyak rekan bisnis saya yang telepon tanya segala macam. Ada yang mengucapkan selamat, kritik, dan ada pula yang ngeledek bercanda," cerita Adiwarsita sembari tertawa lepas. Bila melihat postur tubuhnya yang tegap, wajah tampan dengan potongan rambut pendek seperti gaya anak muda, sepertinya ia cocok untuk bermain sinetron. Apalagi gaya bicaranya tenang serta berkesan sederhana. "Bapak sih...meski seorang bos, tapi cukup akrab dengan bawahannya. Cuma penampilannya saja yang agak koboi," kata salah seorang karyawannya. Adiwarsita mengaku tertarik dengan dunia sinetron, bukan lantaran almarhumah istrinya Paula Rumokoy seorang artis film. Malah tatkala ia mempersunting istrinya yang bintang film, justru artis cantik yang meninggal dunia pada Januari 1993 itu bersedia berhenti dari karir dunia film. "Saya lebih senang punya istri seorang ibu rumah tangga. Karena memelihara keharmonisan keluarga itu jauh lebih penting," ujarnya kepada Bisnis dalam wawancara di rumahnya Jl. D.I Panjaitan, Jakarta, akhir pekan lalu. Meski ia merasa enjoy main sinetron, tapi ia tergolong orang yang tak mau repot untuk belajar akting lebih serius. Bahkan ia tak bersedia menghafalkan naskah skenario yang panjang. "Saya bermain sinetron ini kan hanya untuk mencari pengalaman di dunia film. Eh..ternyata kalau melihat cara pergaulan mereka, saya jadi tertarik," paparnya. Kerja keras Dari pengalaman pertama main film itu Adi tak mau mengungkap soal berapa besar honor yang diterimanya. Cuma ia mengakui bahwa sekalipun kecil honornya, namun ada rasa kekaguman pada dunia film. Hal itu terlihat sekali tatkala ia diajak bercerita panjang lebar tentang pengalamannya. Bahkan keceriahan itu nampak terbersit di wajahnya. "Kalau saya amati dunia film agak unik buat saya sebagai pengusaha. Ya...bayangkan dalam dunia bisnis itu banyak menuntut kerja keras dan disiplin, malah di dunia film agak rileks tapi penuh berkarya," aku Adiwarsita yang dalam sinetron Mentari di balik awan, ia berperan sebagai orang kaya yang dermawan. Dari pengalaman itu ia misalnya bercerita mengenai saat-saat melakukan akting. Saat bercengkerama dan bekerja dalam dunia seni film. "Saya lihat meski mereka bekerja sambil ketawa-tawa, makan nasi bungkus, minum air teh atau kopi yang dituang dari teko, semua itu berkesan mesra dan menyenangkan. Tapi uniknya saat-saat yang tak formal itu ternyata banyak melahirkan ide atau suatu karya seni film," paparnya. Diakui Adiwarsita, dunia kerja seni seperti itu dipandang sangat jauh berbeda dengan kegiatan bisnis yang sudah ditapaknya sejak lama (1972). Namun keuletan dan kerja keras yang banyak diajarkan ibunya semasa kecil, ternyata menjadi bekal hidupnya dalam meniti karir bisnis. "Ayah saya kan cuma jadi wartawan. Saya tahu berapa besar sih.. gaji wartawan kala itu. Kan nggak besar. Makanya ibu saya rajin dan kerja keras untuk menabung buat masa depan anak-anaknya," kenang anak ketiga dari lima bersaudara keluarga wartawan kesohor Djamaluddin Adinegoro. Ia bercerita mengenai kehidupan masa silam orang tuanya. Adi dengan sikapnya yang lugu dan polos, terkesan haru serta bangga atas perjuangan ibunya yang gigih. Berbeda dengan ayahnya, Djamaluddin Adinegoro yang namanya kini diabadikan dalam suatu penghargaan di dunia pers, diakui tekun menulis di berbagai media. Tak jarang tulisannya yang tajam dan kritis, kerap dianggap menjadi senjata untuk menembus angan-angan dalam pikiran manusia. "Meski gajinya kecil, tapi idealisme sebagai wartawan ayah saya selalu berjuang lewat tulisannya. Itu dilakukan semasa kolonial. Mungkin karena itu namanya telah mengharumkan jiwanya dalam dunia pers," ungkapnya. Buktinya tak sedikit dari perjuangan itu, Djamaluddin Adinegoro merintis untuk memajukan dunia pers. Salah satunya ia berhasil mendirikan Pers Biro Indonesia pada 1951, membangun Sekolah Perguruan Tinggi Publisistik, membuat Peta Perang Dunia II, Atlas Semesta Dunia, serta masih banyak lagi lainnya. Karena jiwa kepeloporannya itu, kini nama Adinegoro diabadikan dalam suatu penghargaan bagi mereka yang berprestasi di dunia pers. Seperti diceritakan Adi, di tengah perjuangan mesiu senjata pada masa kolonial dulu, namun dengan jerih payah tinta wartawan yang hidup pas- pasan itu, ternyata bisa tertolong ekonominya berkat perjuangan seorang ibu. "Saya sendiri nggak habis pikir, bagaimana ibu bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Akhirnya saya tahu, dari rumah yang dibeli ibu, ternyata ada yang disewakan. Lalu dari untung sewa itu dibelikan rumah lagi. Dan seterusnya begitu, sampai punya banyak rumah," tutur Adiwarsita. Ayahnya seperti tidak tahu jika ibu yang hanya sebagai rumah tangga, ternyata banyak mengangkat kehidupan ekonomi keluarganya. "Pikir ayah, dari mana ibu bisa mengumpulkan uang dan membeli rumah. Mungkin ayah terlalu sibuk menulis. Sehingga tak tahu banyak mengenai usaha sewa rumah yang dirintis ibu," kenang Adiwarsita yang merasa haru dan bangga. Keberhasilan ibu Bahkan berkat keberhasilan ibu dalam merintis usaha sewa rumah, tak terbayangkan bagi anak-anaknya jika kelak ia akan diwarisi rumah satu per satu. "Saya sendiri tak menyangka kalau ibu bisa memberikan warisan rumah satu-satu kepada anak-anaknya," cerita Adi tentang ibunya, Alidar yang kini berusia 84 tahun. Dari tetesan darah ibu yang berbakat bisnis itu, Adi mengaku adanya dorongan naluri bisnis dalam dirinya. Malah nama besar ayahnya yang gigih berjuang untuk dunia wartawan, tak satu pun dalam lingkungan keluarga yang mengikuti jejak karir ayahnya. "Orang jadi wartawan itu kan nggak gampang. Buktinya ayah saya wartawan, tapi anak-anaknya tak satu pun yang bisa jadi wartawan," ujarnya. Untung, ayahnya Djamaluddin Adinegoro dipandang sangat bijak terhadap keluarganya. Semasa hidupnya dulu ia tak pernah memaksa anak- anaknya untuk harus menjadi wartawan. Sikap itu yang amat dihargai putra-putrinya. Makanya jangan heran bilamana anak-anaknya menentukan karir sendiri. Ada yang cuma jadi ibu rumah tangga, ada yang jadi pengusaha, dan ada pula yang jadi karyawan profesional. "Malah saya dulu pernah bercita-cita mau jadi dokter. Mungkin nggak tercapai, eh...malah saya pilih jadi pengusaha. Cuma saya ingat kenapa saya ingin jadi dokter, karena dulu pada 1960-an banyak orangtua berharap anaknya bisa jadi dokter. Tetapi ayah saya nggak begitu cara mendikte anaknya," cetusnya sembari tersenyum. Bahkan pengusaha yang low-profile mengenai usahanya ini, justru selepas SMA Kanisius Jakarta, 1964, ia memilih untuk melanjutkan di sekolah teknik, Technische Fachlochshule Berlin, Jerman, hingga lulus 1971. Sebelumnya sempat kuliah di FTUI, cuma sampai tingkat III (1964-1966).


Other News